Monday, October 17, 2011

cowok vs cewek


Yang ini judulnya nggak ada yang mau ngalah ni. Karena ego-nya sama. Sama-sama gede.

Coba iseng ngebayangin, bikin quiz namanya cowok vs cewek. Adu kekuatan, kepintaran, keahlian dan keunggulan.
Satu yang terlintas di pikiran. Sebelum quiz di mulai mungkin udah bentrok masalah urutan nama quiz-nya. 
“Cewek dulu dong, namanya juga ladiest first. Jadi cewek vs cowok. Gitu aja” kata kubu cewek.
“justru cowok dulu. Cowok kan pemimpin. Manusia pertama yang diciptakan aja jenis kelaminnya laki-laki. Jadi cowok vs cewek pantesnya.”

Biasa-bisa nggak kelar 2 hari 2 malem nentuin judul doang. Hihihi…

Makanya gini, ngomongin mana yang lebih unggul ya susah. Yaaa secara makannya sama, nafas dari bahan yang sama, cara makan dan nafasnya sama, diolahnya lagi-lagi di tempat yang sama.

Cuma satu yang beda. Dan ini ngaruh gila. Yaitu tugas dan fungsinya.

Emang apa sih fungsi cewek dan cowok?
Satu yang gue tau pasti. Yang nggak bisa dan nggak boleh diganggu gugat. Karena ini akar dari semua persoalan.

Cowok adalah pemimpin.

Cewek adalah pendamping.

Kenapa harus cowok yang jadi pemimpin? Kenapa bukan cewek?
Ini satu dari sekian fakta yang gue pinjem dari http://www.mastersofhealthcare.com/blog/

Left brain vs. both hemispheres. Men tend to process better in the left hemisphere of the brain while women tend to process equally well between the two hemispheres. This difference explains why men are generally stronger with left-brain activities and approach problem-solving from a task-oriented perspective while women typically solve problems more creatively and are more aware of feelings while communicating.
Yang artinya, cowok cenderung lebih sering memproses sesuatu di belahan otak kiri, sementara  cewek memprosesnya rata, di kedua bagian otak (both hemispheres).
Jadi perbedaan ini yang ngejelasin kenapa cowok umumnya lebih kuat dengan kegiatan otak kiri dan pendekatan pemecahan masalah dari perspektif berorientasi pada tugas alias hal logis, sementara perempuan biasanya lebih kreatif memecahkan masalah dan lebih menyadari perasaan saat berkomunikasi alias sensitif, peka.

Coba bayangin punya pemimpin yang selalu mengandalkan ke-sensitifan perasaannya di banding logika dalam memutuskan semua hal.
Banyak sih contoh pemimpin labil. Akhirnya pengikutnya kececeran, ga ngerti mau dibawa kemana.

Sebaliknya, gimana jadinya pemimpin tanpa ada pendamping yang bisa lebih peka pada situasi yang terjadi?
atau lebih parah, punya pendamping yang maunya jadi pemimpin yang nggak pernah mengandalkan kelebihan intuisinya dalam memerhatikan kebutuhan pengikutnya?
Pendamping nggak akan bisa melakukan tugasnya dengan baik jika hanya mengandalkan logika. Dia nggak akan peka. Nggak ada perasaan. Muncul gep antara pengikut dan pemimpin karena kurangnya kepedulian. Ujungnya? Kececeran juga lah.

Jadi ini bukan urusan kalah atau menang, atau siapa lebih baik.
Ini masalah penempatan sesuai porsi masing-masing.
Sepatu dipakenya dibawah, tapi kepentingannya sama seperti topi yang dipakenya di atas.

Jadi kalau boleh kasih saran,

Wahai cowok, belajarlah mencari tau bagaimana menjadi seorang pemimpin yang bijak, adil dan tegas dalam membuat keputusan. Seperti mendapat peran utama. Selalu paling diharapkan kemampuannya untuk menguasai peran dalam sebuah pertunjukan.

Wahai cewek, belajarlah mencari tau bagaimana menjadi pendamping yang setia, mengerti, dan menghormati setiap keputusan. Seperti orang di belakang layar. Tak pernah tersorot namun begitu menentukan kondisi suatu pertunjukan.