Kenapa jatuh, Cinta?
Haaaaaahhhhhh...... *ngulet dulu bentar*
Sebenarnya malas sekali melihat, mendengar, apalagi membuat judul seperti tulisan yang nongkrong di atas ini.
Kenapa ya?
karena sepertinya sudah buaaanyak posting-an, artikel, bahasan mengenai ini.
Dan yaaaa… gimana ya, unyu'-unyu’ banget nggak seh...
mungkin akan lebih pantas kalau yang membahasnya para blogger-blogger galau Indonesia. (Ada nggak tu komunitasnya ya?)
Tapi berhubung blog ini memang khusus membahas masalah cinta dengan segala jatuh-bangunnya, baiklah. Saya coba jabarkan pandangan saya.
“Kenapa jatuh?” memang jatuh itu sakit, tidak enak. Sedangkan cinta (biasanya) indah, berbunga-bunga, di taman ria… and so on, and so on…
Tapi benar juga kan kalau cinta bisa terasa sakit? rasanya tidak enak? Terjadi pada siapa saja. Random bin Tiba-tiba
nama samarannya.
Kehadirannya hampir selalu tanpa disadari. Baru terasa setelah kita tau telah terjatuh. Dan yang lebih parah…korengnya bikin geger siang-malam.
Nggak terima? Oke, nggak pa-pa. Kita ganti kata-katanya. Cari kata kerja lain.
Coba dengan Datang Cinta. “Waduh maaf Bu, si ‘datang’ udah di carter sama Bulan.” Kata mas-mas agen.
-Hmmh… Ya juga ya. datang cinta lebih terkesan sesuatu yang rutin datang dan pergi tiap bulannya- Maklum ni, lagi datang cinta. Hahahahaha….
“Ganti!”
"Baik Bu, tenang Bu, kita masih punya stok lagi… Sebentaar… saya cari dulu file-nya Bu ya… Bagaimana kalau… nah.. ini…"
Makan cinta!
*tepok jidad* “makan tuh cinta!” si Ibu Boss marah-marah.
“Sejak kapan cinta di makan? Dari jaman kaisar To Liong To juga nggak ada sejarahnya makanan bernama cinta.”
-Tak ada resep kongkritnya, kalaupun ada, akan selalu beda rasanya di tiap mulut. Ia lebih dari sekedar makanan.-
“Mending saya makan hati! Jelas lebih bergizi…” kata si Bu Boss geram. Mas agen melonggarkan dasi yang begitu rapi mencekik lehernya. Wajahnya cemas penuh keringat. Sibuk membolak-balik map tebal berisi kertas-kertas buram terbungkus plastik rapi.
“Apa Gantinya?”
Kali ini tampaknya si mas agen menemukan satu pencerahan. Kelihatannya yang ini cukup meyakinkan. Mulutnya perlahan membuka dengan wajah penuh keyakinan melihat tulisan tersebut.. “Gimana kalau Bangun Cinta?”
Si Ibu menimbang-nimbang tawarannya. Kucolek tangan si mas agen agar mau mendekat. Kubisikkan padanya “itu juga udah di take-in tau mas...”
“Ah.. sama siapa? Belum pernah ada. Bangun tidur? Itu sih bukan nge-take dia, cuma sering maen bareng aja berdua.”
“Bukan, bangun nikah..” kataku pelan, takut terdengar si bu Boss nan Killer. Tapi percuma, Bu Boss telinganya tajam, matanya besar, giginya runcing (ini bu Boss, kok mirip serigala ya?!)
Habis sudah kepercayaan Bu Boss. Ia pergi meninggalkan mas agen dengan segala sumpah serapah. Hancurlah sudah harapan mas agen untuk mendapatkan promosi naik pangkat menjadi Manager Agen pra-Sarana Istilah Kata (jabatan yang aneh…)
Mas Agen menangis sejadi-jadinya. Memukul-mukul map tebalnya ke tanah.
Lalu ia berpesan padaku.
Begini katanya.
“Tolong sampe’in sama semua orang yang mbak temui. Jangan lagi mencari saya. Istilah kata, jabatan saya sudah hilang, habis, lenyap, raib. Saya mau pulang kampung aja. Istilah kata, nyangkul di sawah lebih mudah daripada mengganti istilah kata. Semua udah dirangkai sesuai tempatnya. Jadi percuma di-otak-atik juga. Istilah kata, Saya…. Patah hati… Patah semangat… Patah se-patah-patahnya kata. Huaaaaaaaa” ia menangis sejadi-jadinya. Kucoba mengelus punggungnya, siapa tau bisa menenangkan.
Haaaaaaaaaaahhhhhh…… *ngulet lagi, pegel.*
Jadi daripada sibuk mikirin kenapa kata ini harus sama inu, anu kok sama ono, mending kenalan sama para Istilah Kata dan Majas. Personifikasi, Metafora, Hiperbola, dan kawan-kawannya yang banyak gila… Mereka anaknya asik-asik kok.
Tak kenal maka tak sayang… ihiiiiy…
Dan pastinya akan lebih mending dan lebih ‘meaning’ kalo kita mikirin prioritas cinta. Buat siapa seharusnya kita berikan cinta.
“Sayang kalau energi cinta yang segitu besarnya cuma dipakai untuk cinta-cintaan”.
Mubazir kalo kata orang arob mah.
Cinta itu ikhlas. Cuma manusianya yang pamrih. Jadi coba prioritaskan cinta yang ikhlas pada yang telah ikhlas memberikan kita cinta. Cari tau siapa. Di mulai dari hierarki yang paling besar, paling tinggi, paling layak. Lalu urutkan ke bawah sampai bertemu pada cermin. Dirimu sendiri. Semoga berhasil! Yuk mari…